Kamis, 25 September 2014

Manusia dan Keingin Tahuannya


      Sebagian besar orang mengira bahwa era modern adalah era keika tekhnologi mampu menguasai kehidupan bermasyarakat. Ada juga yang berpendapat bahwa era modern adalah era yang digambarkan dengan kemajuan dan kemudahan manusia dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Ya, memang semua pendapat tersebut didukung oleh realita yang sekarang ini mudah sekali ditemui. Aristoteles mengemukakan bahwa Every man has by nature desire to know, yang berarti  manusia pada hakekatya selalu ingin tahu, dan akhirnya hal inilah yang mendasari bahwa manusia dari zaman dahulu hingga sekarang berusaha mencari tahu hal apa saja yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Berkat kemajuan nzaman yang terus-menerus berubah senakin lama semakin maju, akhirnya munculah sebuah istilah baru untuk menggambarkan sesuatu yang selama ini dicari manusia demi memenuhi hasrat keingintahuannya tersebut, yaitu informasi.
           
Berkembangnya informasi yang ada di kalangan manusia pada saat ini memicu keinginan lain manusia untuk membagikan sebuah informasi. Istilah jurnalisme pun ikut berkembang, seiring dengan melesatnya informasi. Ada yang mengira bahwa jurnalisme lahir di era yang modern, yaitu era ketika tekhnologi semakin berkembang dan akses informasi mudah didapat. Padahal, jurnalisme muncul dan sudah ada sejak zaman Romawi kuno.  Pada masa pemerintahan Julius Caesar (100-44 SM), dia membuat sebuah papan informasi (majalah dinding) yang bernama Acta Diurna, yang kemudian diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, Raja Imam Agung memerintahkan untuk mencatat segala kejadian di sebuah papan tulis yang digantungkan di serambi rumah atau pada zaman tersebut sering disebut  Annals. Papan itu mencatat  seluruh informasi yang diperuntukkan bagi setiap orang yang lewat dan yang mungkin memiliki beberapa keperluan dengan si empunya rumah. Di zaman Julius Caesar hal serupa juga dilakukan. Dia memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada sebuah papan yang benrama Acta Diurna . Dari situlah seluruh berita tentang kejadian sehari-hari, atau peraturan-peraturan penting, dan hal-hal yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya dapat diketahui. Papan pengumuman tersebut ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.
Tidak hanya itu saja, kemunculan papan informasi di tempat-tempat umum akhirnya memicu munculnya para Diurnarii, yaitu orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan Acta Diurna. Mereka juga bersedia melakukan “peliputan berita” untuk para tuan tanah dan para hartawan. Dari kata Acta Diurna inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal, yakni kata Diurnal dalam Bahasa Latin yang berarti harian atau setiap hari dn kemudian diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi Du Jour dan bahasa Inggris Journal yang berarti hari, catatan harian, atau laporan. Dari kata Diurnarii muncul kata Diurnalis dan Journalist (wartawan).
            Seiring berkembangnya zaman, banyak media yang mulai dipakai untuk mempublikasikan informasi dan berita, mulai dari media cetak yang berkembang menjadi  koran, majalah, buletin, tabloid, dsb, dan media elektronik, seperti TV, radio, internet, dan lain sebagainya. Dengan semakin canggihnya tekhnologi saat ini, seluruh berita dan informasi menjadi semakin lebih mudah. Itulah sebabnya para jurnalis saat ini, tidak hanya terbatas pada media pemberitaan melalui media cetak, maupun elektronik saja, tapi juga jurnalis online. Bahkan sekarang ini semua orang bisa menjadi seorang jurnalis tanpa harus menjadi seorang wartawan. Akibat begitu banyaknya media TV dan online yang menggelar sayembara untuk menulis berita dan membagikan berita tersebut pada media umum, memunculkan para jurnalisme warga atau citizen journalist. Para citizen journalist  tidak harus memiliki kartu pers dalam peliputan berita yang mereka lakukan. Cukup berbekal handphone canggih dan kamera, serta alat-alat lain yang mendukung, merekapun sudah bisa ikut serta membagikan berita kepada khalayak umum.













JOURNALISM
An Individual Assignment

Yora Yalu Setio Wibowo Sasongko
(21412010)


Supervised by
Yupi Apridayani, S.Sos


ENGLISH DEPARTMENT
THE CATHOLIC UNIVERSITY OF WIDYA MANDALA
MADIUN
2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar