Kamis, 25 September 2014

Sosok-sosok di Balik Kesuksesan R.A Kartini

Raden Ajeng Kartini adalah nama yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, R.A Kartini adalah sosok yang disebut-sebut sebagai pahlawan kemerdekaan kaum wanita di Indonesia. Karena perjuangannyalah, wanita Indonesia kini memiliki kesetaraan gender dengan kaum laki-laki. Perjuangan R.A Kartini sangat dihargai sehingga presiden Soekarno menetapkan R.A Kartini sebagai salah satu pahlawan nasional, selain itu tanggal lahir R.A Kartini dijadikan hari besar yang diperingati setiap tahunnya dan dikenal dengan nama hari Kartini. Namun dibalik kesuksesan R.A Kartini ini sebenarnya ada tokoh-tokoh yang sangat berjasa bagi kemajuan karir dan perjuangannya, tokoh-tokoh ini kurang begitu diperhatikan oleh masyarakat Indonesia, masyarakat lebih terfokus pada sosok Kartini sendiri sehingga mengabaikan tokoh-tokoh yang mempunyai andil besar dalam keberhasilan R.A Kartini. Siapakah tokoh-tokoh tersebut?

Raden Ajeng Kartini yang biasa dipanggil Raden Ayu Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal  21 April 1879. R.A Kartini adalah seroang wanita yang berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. R.A Kartini adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan bupati Jepara saat itu, ibunya bernama M.A Ngasirah yang merupakan selir pertama R.M Adipati Ario Sosroningrat. Meskipun hanya anak seorang selir, namun ayahnya memperlakukan R.A Kartini sama dengan anak-anak dari istri pertamanya. Dan dari sinilah perjalanan R.A Kartini dimulai.
Sosok pertama yang menjadi pendukung R.A Kartini adalah ayahnya sendiri yaitu R.M Adipati Ario Sosroningrat. Sebagai seorang bupati Jepara, ayah R.A Kartini termasuk ayah yang mampu menafkahi keluarganya secara berkelimpahan. Kondisi keluarga yang cukup “berada” membuat R.A Kartini dapat menikmati bangku sekolah sampai usia 12 tahun. Pada jaman dahulu, merupakan pantangan jika seorang perempuan menempuh pendidikan yang tinggi, namun ayah R.A Kartini berani melanggar tradisi tersebut dan menyekolahkan R.A Kartini di ELS (Europes Lagere School). Di sekolah inilah Kartini kecil belajar banyak hal termasuk bahasa Belanda. Pada masa kecilnya, Kartini selalu didorong oleh ayahnya untuk memiliki minat yang tinggi terhadap pengetahuan. Semasa kecil, Kartini termasuk anak yang lincah dan dapat dikatakan “nakal”, namun ayahnya tidak melihat kelincahan Kartini ini sebagai suatu kenakalan, ayahnya menganggap bahwa kelincahan dan tingkah polah Kartini ini adalah suatu bentuk keingintahuan yang sangat besar dari dirinya. R.M Adipati Sosroningrat juga melihat bahwa anaknya ini memiliki bakat seorang pemimpin, hal ini terlihat dari cara Kartini yang selalu berhasil memprovokasi adik-adiknya untuk bermain sesuai dengan keinginannya.
Sebelum memasuki usia sekolah, ayahnya pernah mendatangkan guru ke rumah untuk mengajar Kartini kecil, namun guru tersebut seringkali marah-marah karena ulah Kartini. Setelah cukup usia, R.A Kartini kemudian didaftarkan di ELS. Sebuah langkah besar yang memerlukan keberanian dari seorang R.M Adipati Sosroningrat, mengingat saat itu sekolah untuk anak perempuan adalah sesuatu yang tabu. Namun R.M Adipati Sosroningrat berani melanggarnya bahkan berani menghadapi celaan dan makian dari orang-orang sekitar, hanya agar Kartini mendapat pendidikan yang layak dan berpengetahuan luas. Langkah besar R.M Adipati Sosroningrat inilah yang menjadi pondasi awal dari perjuangan Kartini. Karena disekolahkan oleh ayahnya, Kartini memiliki banyak teman dan juga mendapat lebih banyak pengetahuan termasuk pengetahuan tentang keadaan wanita-wanita di luar negeri, sampai Kartini dapat lancar berbahasa Belanda dan memiliki teman korespondensi orang-orang Belanda. Meskipun pada umur 12 tahun Kartini harus berhenti sekolah karena harus menjalani masa pingitan, namun dukungan ayahnya tidak berhenti sampai di situ saja, ketika Kartini meminta buku-buku sebagai bahan bacaannya, ayahnya membelikan semua yang diminta oleh Kartini. Ayah Kartini juga membiarkan anaknya tersebut berkorepondensi dengan teman-temannya di luar negeri.
Pemikiran R.A Kartini yang terbuka pada pengetahuan, sebenarnya tidak lepas dari dukungan ayahnya. Ayah R.A Kartini memiliki peranan besar yang mempengaruhi pemikiran Kartini. Ayah Kartini bukan seperti orang-orang pada jaman itu yang menganggap bahwa pengetahuan tidaklah penting bagi anak perempuan, sebaliknya ayah Kartini merasa bahwa pendidikan adalah dasar yang harus dimiliki anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan agar dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Terlebih lagi, ayah Kartini melihat potensi besar yang dimiliki oleh Kartini, sehingga ayah Kartini tidak mau menyia-nyiakan potensi anaknya tersebut, ayah kartini berusaha agar potensi anaknya dapat lebih ditingkatkan lagi dengan menempuh jalur pendidikan. Dukungan dari ayahnya ini tidak disia-siakan oleh Kartini, dia belajar degan tekun lewat buku-buku bacaan yang dibelikan oleh ayahnya. Meskipun masih belum berani melanggar tradisi Jawa lebih jauh lagi, namun apa yang dilakukan oleh ayah Kartini ini menjadi dasar yang sangat kuat bagi perkembangan pola berpikir anak-anaknya, termasuk R.A Kartini.
Sosok kedua yang berjasa bagi perjuangan Kartini adalah K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan suami R.A Kartini. Pada tanggal 12 November 1903, Kartini menikah degan K.R.M Adipati Adhiningrat. Suami Kartini mengetahui keinginan dari Kartini untuk memajukan wanita Indonesia khususnya wanita Jawa. Oleh karena itu, K.R.M Adipati Adhiningrat memberikan ijin pada Kartini untuk membuka sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Dukungan suaminya tersebut semakin melancarkan langkah Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan gender bagi kaum perempuan Jawa. Keputusan K.R.M Adipati Adhiningrat untuk membiarkan Kartini membuka sekolah, termasuk suatu keputusan yang besar, karena pada saat itu, seorang istri hanya memiliki kewajiban untuk menjadi ibu rumah tangga, tidak lebih dari itu. Namun K.R.M Adipati Adhiningrat tidak melarang Kartini berkarya dan tidak memaksa Kartini untuk tetap tinggal di rumah, melainkan membebaskannya bekerja dan meneruskan cita-citanya. Karena dukungan inilah, perempuan Jawa dapat menikmati pendidikan di sekolah yang didirikan oleh Kartini dan suaminya.
Sosok yang lain adalah sahabat-sahabat Kartini, salah satunya adalah Letsy, sahabat Kartini semasa sekolah di ELS. Suatu hari ketika Kartini sedang bermain bersama teman-temannya yang lain, dia melihat Letsy sedang asyik membaca buku sendirian, Kartini pun menghampiri Letsy dan mengajaknya bermain, namun Letsy menolak ajakannya dan mengatakan bahwa dia ingin belajar agar berpengetahuan luas dan dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Letsy juga memberikan satu pertanyaan yang membuat Kartini mulai berpikir kritis, Letsy bertanya akan melanjutkan kemana Kartini nanti setelah lulus dari ELS, pada saat itu Kartini hanya bisa terdiam karena dia sadar bahwa adat dan tradisi Jawa tidak memungkinkannya untuk melanjutkan pendidikan. Pertanyaan Letsy ini menjadi semacam cambuk bagi Kartini untuk berpikir lebih kritis lagi, Kartini pun mulai mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “mengapa perempuan Jawa tidak boleh memiliki pendidikan yang tinggi?”. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, Kartini pun mulai mencari sumber-sumber bacaan, baik berupa majalah maupun artikel, dan dari sini lah pemikiran Kartini mulai terbuka tentang posisi seorang perempuan yang sebenarnya. Pertemuan Kartini dan Letsy memang merupakan pertemuan yang cukup singkat waktu itu, namun pertanyaan polos Letsy inilah yang menjadi suatu semangat tersendiri bagi Kartini untuk bertekad melanjutkan pendidikannya.
Sosok-sosok terakhir yang berjasa dalam kehidupan R.A Kartini adalah sahabat-sahabat korespondensinya di luar negeri. Sahabat-sahabatnya ini menjadi penyemangat lain yang mendorong Kartini untuk melanjutkan perjuangannya. Sahabat-sahabat korepondensinya ini juga memberikan wawasan yang luas pada Kartini. Wawasan inilah yang membuat Kartini berpandangan terbuka pada budaya luar negeri yang lebih membebaskan kaum perempuan. Semangat dan dorongan dari sahabatnya tidak pernah putus sampai Kartini berhasil mendirikan sebuah sekolah, bahkan sampai Kartini mempunyai cabang-cabang sekolah di kota lain.
R.A Kartini memang sosok yang sangat luar biasa terutama bagi kaum wanita Indonesia. Karena Kartini lah wanita Indonesia dapat menikmati pendidikan yang tinggi dan memiliki kesetaraan gender dengan kaum laki-laki. Namun dibalik kehebatan seorang R.A Kartini, ada sosok-sosok seperti ayah, dan sahabat-sahabatnya yang menjadi pendukung utama dan berandil besar dalam keberhasilannya tersebut. Sosok-sosok ini memang seperti terabaikan bagi masyarakat Indonesia, namun sebagai bangsa yang besar dan menghargai jasa pahlawannya, ada baiknya masyarakat Indonesia melihat lagi orang-orang yang ada di belakang keberhasilan seorang tokoh nasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar